Pantai Timang

Pantai Timang 

By tundjung 


Masak petai pakai kemiri. Kalau ke pantai tak harus mandi 

Gunung Kidul sangat kaya akan pantai. Jika sobat ingin pergi ke pantai di Gunungkidul, tidak ada salahnya googling googling dulu. Pantai macam apa sih yang diinginkan? 

Misalnya nih kepingin snorkeling, mungkin bisa ke Nglabor, Sadranan, Wedi ombo, Slili dll. Lain jika ingin kemping. Ngrumput, Sundak, Bukit Pengilon bisa jadi pilihan. 

Beda lagi jika ingin sekedar mandi di pantai yang tidak terlalu besar ombaknya aman. Eh, semua pantai di Gunungkidul besar dink ombaknya. Hanya saja beberapa memiliki area ajaib yang cukup aman untuk berbasah ria.

Nah, kalau Pantai Timang lain daripada yang lain. Selain view yang sangat instagramable atau selfieable, ada wahana yang tidak dimiliki pantai lain. Gondola. 

Cara tempuh Pantai Timang gampang. Asal ada dana. Sekitar 45 menit dari pantai Indrayanti. GPS akan membawamu ke sana. Tapi hati-hati yak, area situ agak miskin sinyal. Macam minyak goreng. 

Hanya saja Pantai Timang tidak bisa dicapai dengan mobil mainstream. Apansah, Sania, Bimolio, dsb. Harus pakai mobil offroad. Sekitar 4 km dari tkp, banyak jeep yang bisa disewa. Harganya lumayan 350k berisi lima penumpang ukuran dewasa. 

Lumayan murah atau lumayan mahal itu terserah kamu. Karena bagi orang berduit tak ada barang mahal. Tinggal cocok atau tidak.

Jalannya seru penuh kerikil- kerikil tajam. Kalau mau jalan kaki ya bisa aja sih. Atau naik motor. Tapi idep idep menghidupkan pariwisata lokal dah. Sewamu semangatku, kata mereka.

"Harusnya akses masuk dibuat mudah. Jalan diaspal. Kerjasama dengan pemerintah, "begitu komen Pak Antin, sesebapak seperjalanan. Kenalan dadakan. 

"Kami kapok kerjasama dengan pemerintah,"sahut Mas driver yang asli lokal. 

"Beberapa pantai yang awalnya dibabat alas masyarakat setempat, kemudian diambil alih pemerintah, berakhir mengecewakan. Masyarakat pada akhirnya tidak dapat apa-apa. Bahkan untuk beli kios di sekitar tempat wisata juga harus bayar mahal. Kami jadi merasa ditinggal pas sukses suksesnya."

Woh, pastinya sakit deh. Identik dengan ditinggal pas lagi sayang sayangnya. 

Tiket masuk cuma 5k per orang. Murah kalo yang ini sih.

Sampai pantai areanya tidak aman buat mandi. Jadi nggak usah mikir ciblon. Tapi ciamik banget buat foto-foto. Suer. Kulakan foto di sini pokoknya puas. 

Nah, kalau mau naik gondola biayanya juga lumayan. Rp150k per orang. Pilihan lain naik jembatan jembatan gantung Rp100k per orang. 

Sayangnya tidak ada kerja sama antara pengelola gondola dan pengelola jembatan. (Ini pendapat pribadi saya lho ya). Jadi ketika saya kepingin berangkat naik gondola, pulangnya pakai jembatan disuruh bayar 250k. Mikir deh. Ya sudah akhirnya pulang pergi naik gondola.

Mungkin pengelola gondola dan jembatan pernah merebutkan wanita yang sama. Atau kalau mereka beda jenis kelamin, semacam PDAM. Pernah dekat akhirnya musuhan. 

Haish! Ngaco ah. Dimaklumi yak, penulis lagi overthinking.

Di pulau seberang setelah naik gondola, banyak view yang asik banget buat foto ambil pidio dll. Puas deh pastinya. Apalagi bila saat kesini cuaca sedang cerah, langitnya biru. Masya Allah.

Konon katanya sebelum jadi tempat wisata, pulau ini adalah tempat nelayan mencari lobster. Lalu ada seorang warga yang pergi ke Jakarta, tepatnya Taman Mini lihat kereta gantung. Berpikirlah bagi dia untuk membuat gondola memudahkan orang menyeberang Pulau lobster. Hebat yak, sekali liat langsung inisiatif gitu. Lha aku??

Lama-kelamaan gondola ini dijadiin wahana wisata. Sebelum pandemic kabarnya wahana ini cukup ramai. Bahkan didominasi wisata mancanegara. Kata Mas Fendi supir jeep, jalan yang sulit dan gondola yang sangat tradisional menjadi daya tarik. Geunun. 

Saat pandemik, wisata ini mati suri. Waktu saya ke sana pun, relatif sepi. Saya sampai sana sekitar jam 10.30 dan pulang jam 12 siang. Hanya 4 orang yang naik gondola. Tidak terlihat yang menyewa jembatan gantung. Otomatis warung di sekitar pantai Timang juga banyak yang tutup. Yang buka hanya beberapa. 

Recommended banget deh

Mumpung belum rame bisa puas foto tanpa ada iklan lewat. 

Foto-foto di suatu spot tapi banyak yang antri itu seperti sedang di toilet umum trus digedor dari luar.

Posting Komentar

0 Komentar

About Me

Tundjungsari Ratna Utami adalah seorang dokter anak yang bertugas di RSUD Ambarawa, RST dr. Asmir Salatiga, dan klinik Sarimedika.
Penulis memiliki 4 anak dan bertempat tinggal di Tuntang, kabupaten Semarang.

Dokter anak ini juga aktif di berbagai kegiatan antara lain pengurus Salimah (Persaudaraan Muslimah) Kabupaten Semarang.

Punya hobi menulis, menjelajahi alam, serta mencoba hal baru.
Hobi ini yang mendorong si emak untuk punya blog. Semoga menginspirasi.