Piknik yang Kesasar


 










Piknik yang Kesasar

By tundjung


Jauh di mata dekat di hati, itu romantis. Dekat di mata tapi tak bisa jumpa, itu dilematis.

Awalnya tidak berniat pergi ke pantai. Namun melihat pemandangan yang begitu cantik dari homestay, si kecil pun geger.

"Ayo, ke pantai!" 

Akhirnya bertiga ke Parang Tritis yang katanya masih tutup. Faktanya sudah sangat ramai, Bro. 

"Bi, ayo naik dokar,"ajak si kecil. 

"Aku nunggu di sini saja. Ngopi." Kata Paksu.

Aku dan Mutia pun naik dokar, pilih paket yang paling murah 50k karena ternyata uang di dompet tinggal 90k. Selesai naik dokar, pantai makin ramai. Penyakit bawaanku kambuh. 

"Umi lupa Abi tadi duduk sebelah mana.  Yuk kita jalan ke arah sana saja," ajakku pada Muthia. Sambil jalan mataku mencoba menelusuri jejak Paksu tapi tidak ketemu.

"Umi, capek."

Si kecil mulai mengeluh.  Aku memutuskan untuk masuk dan mencari warung. Muthia sudah terlihat lemes. 

"Nasi kerang ada?" tanyaku,"berapa harganya?"  

Sisa uang cash di dompet yang tak seberapa memaksaku untuk menghitung cermat pengeluaran. Aku hanya pesan satu porsi untuk Mutia saja.  Kukeluarkan gawai dan kuhubungi Paksu. 

/Aku lupa Abi duduk di mana. Sekarang posisiku di warung makan. Mutia lapar./

Setelah itu percakapan kami cukup intens untuk saling menanyakan posisi. Sulit untuk memberikan narasi yang pas. 

/Aku ada di warung Mbak Tutik di deretan tengah/

Padahal jumlah warunge sak ndayak. 

/Abi kembali ke parkir mobil/ 

/Masalahnya aku juga lupa jalan masuk ke parkiran mobil/

Piye jal? Lha Paksu dah hafal lah soal sifatku yang satu ini. Dipaksa ingat, sulit. Jadi beliaunya terpaksa menerima kekuranganku. Toh nikah katanya senang di awal, bersusah susah setelahnya. Susah yang dinikmati.

/Aku tunggu di belakang Posko SAR. Hanya ada satu di pantai ini/ 

Pada akhirnya Paksu menentukan posisinya. Bermodalkan gunakan GPS-gunakan penduduk setempat, aku tanya sana sini di mana Posko SAR. 

Untung ngga ada yang tanya,"ibu kehilangan orang?"

Kan harus kujawab," saya kehilangan diri sendiri."

Paksu mengirim foto posko SAR. Sebuah bangunan permanen 2 tingkat warna oranye. Alhamdulillah ketemu. Paksu sedang duduk di kursi bambu sambil melihat gawai. 

"Abi ...."Muthia pun berteriak kegirangan melihat ayahnya,"aku suka tersesat karena bisa makan kerang."

Laporan Mutia membuat kami berdua tertawa.

"Besok-besok kalau di tempat seperti ini jangan sampai pisah," ucap Paksu,"aku tadi ditanya berkali-kali. Orang-orang menawarkan padaku, 'Bapak butuh apa?' Ya aku jawab: 'aku butuh istriku saja. Ini sedang kehilangan istri."

Dan aku, mendadak auto baper.

Posting Komentar

0 Komentar

About Me

Tundjungsari Ratna Utami adalah seorang dokter anak yang bertugas di RSUD Ambarawa, RST dr. Asmir Salatiga, dan klinik Sarimedika.
Penulis memiliki 4 anak dan bertempat tinggal di Tuntang, kabupaten Semarang.

Dokter anak ini juga aktif di berbagai kegiatan antara lain pengurus Salimah (Persaudaraan Muslimah) Kabupaten Semarang.

Punya hobi menulis, menjelajahi alam, serta mencoba hal baru.
Hobi ini yang mendorong si emak untuk punya blog. Semoga menginspirasi.