Tak Ada Pilihan, Bijak Yang Tertukar


Tak Ada Pilihan, Bijak Yang Tertukar

Tak Ada Pilihan
By tundjung


Kata orang, cinta itu tidak bisa memilih.
Kataku, bukan hanya cinta yang tak bisa memilih.
 

Pernah milih periksa ke dokter siapa, gitu?

Pasti pernah lah. Alasan mengapa ke dokter tersebut pastinya juga beragam. Mulai alasan rasional seperti: lebih dekat, enak diajak komunikasi, ngga galak, dll. 

Bisa juga karena alasan irasional seperti dokternya good looking atau eyecatching. Apapun alasannya, pasien sih bebas.

Dokter, karena alasan tertentu juga boleh memilih pasien. Penyakit yang diderita pasien, bukan kompetensinya. Tapi kalau alasannya pasien mirip sekali ma mantan, jelas nggak boleh.
 

"Mbak, yang jagain pasien Fulan bapak kandung atau bapak tirinya?" tanyaku ke perawat.
"Bapak tiri, Dok."
"Syukurlah."
 

Bukan apa-apa. Pasien ini anak 7 tahun dengan demam, kejang, penurunan kesadaran. Kalau sadar penuh nilainya 16, pasien ini nilainya 8. Harusnya perawatan picu, apa daya RS belum punya.
 

Rujuk?
Pasien ini pakai Jamkesda. Kalau rujuk, yang ditanggung Pemda cuma 10 juta. Perawatan picu, sehari berkisar 5 juta.
Meningitis TB. Itu diagnosisnya. Lama terapi 1 tahun. Kebayang kan, kalau terapi 1 tahun, maka evaluasi perbaikan juga butuh waktu.
 

Bagaimana perkembangan Fulan, Dok?
Kira-kira masih lama?
Itu pertanyaan si ayah tiri. Standar lah. Wajar nanya begitu.
Mengapa anak saya nggak ada perkembangan, Dok? Apa karena Jamkesda jadi obat seadanya?
Itu pertanyaan ayah kandung. Pertanyaan yang membangkitkan emosi.
 

Ambil napas panjang, hembuskan. Lalu istighfar dalam hati. Baru jawab.
"Pak, adik sudah nggak demam. Juga sudah nggak muntah. Diit bisa full. Itu perkembangan nya."
 

"Tapi, Dok. Anaknya sampai sekarang belum bisa komunikasi. Mengunyah nggak bisa. Makan masih lewat selang. Sampai kapan seperti ini?"
 

"Sampai PPKM berakhir," jawabku dalam hati.
 

"Ya sabar dong, Pak. Saya juga maunya adik cepet membaik. Mengobati sakit bukan seperti memperbaiki mobil di bengkel. Lembur, semua tenaga dikerahkan, sehari jadi."
 

"Iya, Dok. Waktu juga obat, ya, Dok," kali ini ayah tiri yang menjawab.
 

Nah, kalau boleh memilih, aku memilih pasienku dijagain si ayah tiri saja. Berbincang dengan yang paham, bahwa butuh waktu untuk menghilangkan luka, itu lebih nyaman.
Haish!

Posting Komentar

0 Komentar

About Me

Tundjungsari Ratna Utami adalah seorang dokter anak yang bertugas di RSUD Ambarawa, RST dr. Asmir Salatiga, dan klinik Sarimedika.
Penulis memiliki 4 anak dan bertempat tinggal di Tuntang, kabupaten Semarang.

Dokter anak ini juga aktif di berbagai kegiatan antara lain pengurus Salimah (Persaudaraan Muslimah) Kabupaten Semarang.

Punya hobi menulis, menjelajahi alam, serta mencoba hal baru.
Hobi ini yang mendorong si emak untuk punya blog. Semoga menginspirasi.