Rabu yang Ungu


 Rabu yang Ungu 


[Bisa rawuh di TFC jam berapa?] 

Sebuah pesan dari teman di Dinkes. Siang jam 12-an, jawab saya.

Apa itu TFC? 

Saya pernah tanya baik-baik TFC singkatan apa. Sudah dijawab baik-baik pula. Anehnya, secara baik-baik pula saya melupakannya. Ish. Saya memang orang baik. 

Intinya, saya mengadakan pemeriksaan di klinik. Pasiennya anak dengan permasalahan gizi. Atau tumbuh kembang. Para bidan desa yang menjaring pasien itu. 

Jadi, apa singkatan TFC? Ntar, saya belum ingat lagi.

Rabu siang itu, entah mengapa didominasi pasien tuna rungu.

"Pernah dikasih budenya alat bantu dengar. Budenya dikasih orang. Tapi dia nggak mau pakai."

"Apakah sebelumnya pernah dites BERA? Untuk tahu seberapa parah gangguan pendengarannya?"

"Belum."

Gubrakkkk

"Ibu kapan curiga anaknya ada gangguan pendengaran?"

"Waktu usia setahun."

Ibu yang perhatian.

"Tapi katanya ditunggu dulu sampai usia tiga tahun. Kalau belum ada perubahan baru cek pendengaran."

Gubrakkk lagi. Lebih keras.

Jadi begini. Gangguan pendengaran mestinya dilacak sedini mungkin. Intervensi juga begitu.

Why?

Golden periode. Pernah dengar, kan? Manusia lahir, otaknya kira-kira 350 g. Usia dua tahun jadi 1250 g. Ada penambahan sekitar 350%.

Usia 20 tahun, berat otak sekitar 1450 g. Hanya nambah 15%. Bisa ngerasain bedanya kan?

Itulah mengapa intervensi terbaik sebelum 2 tahun. Pas otak lagi mekar-mekarnya.

Lalu soal alat bantu dengar. Mirip kacamata. Mata minus berapa, cari kacamata yang sesuai. Bukan asal pinjam kacamata kuda. Padahal yang dipinjami buaya. Lha kamu tuh siapa?

Lalu mengapa anak-anak itu membuang alat bantu dengarnya?

Teman, rasakan pendengaranmu. Apa yang kau dengar saat ini?

Suara TV

Suara angin

Orang mengaji

Kentut

Bersin

Nyanyian

Apapun itu, dia ada di sekitarmu. Dalam radius terhitung meter saja.

Bayangkan tiba-tiba kau punya kemampuan mendengar yang jauh. Suara tetangga berjarak 5 rumah sedang ada pertengkaran. Suara teman kantor ngrasani kamu. Suara dari kamar hotel yang sedang saling merayu.

Kira-kira kamu jadi bahagia atau menderita?

Begitulah ketika alat bantu dengar dipasang saat anak sudah besar.

"Hei, apaan? Aku sudah biasa hidup tenang."

Selalu butuh adaptasi untuk sesuatu yang baru. Apalagi yang baru itu, luar biasa.

Ah, bicara soal tuna rungu membuat saya ingat sebuah pertanyaan.

Sejujurnya, kapan kamu benar-benar bersyukur dengan nikmat pendengaran?

Posting Komentar

0 Komentar

About Me

Tundjungsari Ratna Utami adalah seorang dokter anak yang bertugas di RSUD Ambarawa, RST dr. Asmir Salatiga, dan klinik Sarimedika.
Penulis memiliki 4 anak dan bertempat tinggal di Tuntang, kabupaten Semarang.

Dokter anak ini juga aktif di berbagai kegiatan antara lain pengurus Salimah (Persaudaraan Muslimah) Kabupaten Semarang.

Punya hobi menulis, menjelajahi alam, serta mencoba hal baru.
Hobi ini yang mendorong si emak untuk punya blog. Semoga menginspirasi.