Pertolongan yang Tak Dirindukan


Pertolongan yang Tak Dirindukan 

By tundjung

Ini cerita tentang masa lalu (lagi). Katanya kalau orang sudah tua, memang suka menceritakan masa lalu. Mungkin memang pertanda aku mulai tua.

Waktu koas dulu sering bertugas di Klaten. Bisa dua minggu, kadang satu bulan. Aslinya sih nggak boleh pergi-pergi. Namun namanya ada perlu, sesekali pulang ke Jogja. Naik bis umum tentunya. Solo-jogja. 

Saat perjalanan dari Jogja ke Klaten, hari sudah lewat magrib.  Aku sudah pesan ke  Pak Kondektur, "saya turun rumah sakit Klaten ya." 

Rupanya si bapak lupa dan aku ketiduran. 

"Pak, rumah sakit sudah kelewat ya?" tanyaku  ke kondektur bis. 

"Waduh, sudah, Mbak. Maaf saya lupa," jawab Pak kondektur penuh penyesalan. 

Aku seketika diam. Bukan karena marah, tapi lebih karena bingung. Aku hampir tidak pernah jalan-jalan ke Klaten. Benar-benar hanya di rumah sakit dan sesekali pulang ke Jogja. 

"Kalau begitu saya turun di mana?" 

"Sudah, Mbak. Sini, berdiri dekat pintu. Jangan turun di sini, gelap. Nanti Mbaknya turun di sana saja terus naik angkot untuk balik ke rumah sakit." 

"Inggih, Pak, matur nuwun," jawabku. 

"Yang sakit siapanya?"

Aku hanya diam. Mau jawab 'saya koas', ntar musti menjelaskan koas itu apa. Terkadang ada rasa enggan mendetailkan sesuatu ke orang yang tidak pas.

Aku tidak tahu diamku ini diterjemahkan apa oleh kondektur. Namun tiba-tiba ia mengulurkan uang Rp 500. 

"Ini nanti buat naik angkot, Mbak." 

Aku hanya terpana. Kaget. Ada terharunya. Meski aku anak kos tapi bisa jadi kondisi ekonomiku  jauh lebih baik dibandingkan Pak Kondektur. Rasanya tidak pantas kalau aku menerima uang dari beliau. Melihatku yang diam saja tiba-tiba Pak Kondektur menarik lengan baju bagian bawah lalu kepingan uang 500 itu dipaksakan ke dalam genggaman tanganku.

"Tidak apa-apa, Mbak. sungguh tidak apa-apa. diterima saja." 

Sampai sekarang aku masih teringat ekspresi si bapak yang seperti sangat berharap agar kepingan uang itu kuterima.

"Nah, turun sini, Mbak. nyebrang ya. Lalu naik angkot warna kuning," pesan si Bapak lagi.

"Matur nuwun," sahutku 

Kondektur masih menoleh ke belakang ketika bis melaju. Wajahnya seperti bahagia pada akhirnya aku menerima uang 500 darinya. Atau aku yang halu juga nggak bisa.

Sampai saat ini aku sering bertanya, salahkah ijtihadku menerima bantuan orang dengan niat membahagiakan pemberi?

Karena sungguh kebahagiaan bisa memberi, jauh lebih besar daripada kebahagiaan mendapatkan sesuatu.

Posting Komentar

0 Komentar

About Me

Tundjungsari Ratna Utami adalah seorang dokter anak yang bertugas di RSUD Ambarawa, RST dr. Asmir Salatiga, dan klinik Sarimedika.
Penulis memiliki 4 anak dan bertempat tinggal di Tuntang, kabupaten Semarang.

Dokter anak ini juga aktif di berbagai kegiatan antara lain pengurus Salimah (Persaudaraan Muslimah) Kabupaten Semarang.

Punya hobi menulis, menjelajahi alam, serta mencoba hal baru.
Hobi ini yang mendorong si emak untuk punya blog. Semoga menginspirasi.