Makular Retinal Distrofi


Makular Retinal Distrofi

Makular Retinal Distrofi
By Tundjung

"Umi, pandanganku kok kabur, ya," keluh nakdis nomor 3.

Ayahnya berkacamata. Aku juga. Begitu pula kedua kakaknya.

"Wah, kamu juga butuh kacamata, to," kataku enteng.

Lalu kuantar ke RS tempatku kerja. Biar dicarikan kacamata yang pas. Aku mulai nggak enak ketika pinhole tidak bisa mengoreksi.

Pinhole itu kacamata yang ada titik super kecil. Pandangan kabur karena kelainan refraksi (biasanya akan terbantu dengan kacamata), akan jadi jelas kalau pakai pinhole.

"Ini yang kena retina,"kata dokter mata. "Rujuk ke ahli retina saja."

"Biasanya karena apa?"

"Bisa torch. Bisa karena yang lain."

Aku membawa ke ahli retina di Jogja. Beliau menyarankan untuk cek torch.

"Kalau ada hasil, ke sini lagi. Lab nya tidak sehari jadi."

Aku memeriksakan di lab swasta di Salatiga. Yang dekat. Hasilnya toxo negatif. CMV Ig M negatif. Ig G tinggi. Begitu pula dengan aviditas. Secara singkatnya, itu infeksi lama. Respon antibodi juga baik.

"Kucingnya ntar dibuang saja," usul paksu melihat hasil lab. Nakdis auto cemberut.

Emak autosearching retinitis CMV. Bisa diobati. Tapi kebanyakan anak yang kena CMV terus jadi retinitis, imunocompremissed. Misal pada anak HIV.

Emak jadi galau. Rasanya kepingin cepet ketemu dokternya lagi. Tapi pas beliau praktik, pas tanggal merah.

"Kita ke Semarang saja," kataku pada paksu.

"Ini gambaran distrofi. Bukan infeksi," kata dokter yang di Semarang.

Distrofi?

Meski aku bukan dokter mata, setidaknya aku dokter anak. Distrofi itu genetik. Dan biasanya progresif. Dan satu lagi: ngga ada obatnya.

Emak Googling lagi. Tentang distrofi retina. Rare disease. Sebagian progresif dengan cepat hingga terjadi kebutaan. Sebagian lagi low progresif saja.

"Kita second opini ke Jogja saja."

Tetap sama. Distrofi.

"Sebenarnya pandangan kaburnya sudah sejak kecil," kata dokter Jogja.

Ketika kutanya lanjut, ternyata begitu. Kalau lihat benda, yang bagian tengah kabur. Nakdis diam karena berpikir semua orang ya begitu. Hanya akhir-akhir ini pandangan kaburnya melebar. Dia merasa terganggu, jadi lapor.

"Dokter yang Semarang bilang apa?"

"Progresif. Uncurable. Genetik."

Dokter yang Jogja ini guruku. Beliau juga tahu aku dokter. Pun dokter yang di Semarang. Jadi aku maklum ketika info yang mereka berikan sepotong. Bagiku itu cukup jelas.

"Apakah progresivitasnya bisa dicegah?" tanyaku.

Gelengan sambil tersenyum adalah jawaban mereka. Seperti pedagang yang menolak saat ditawar.

Baiklah, Nakdis. Kita hadapi bersama ya, Nduk. Berdoa ini slow progresif. Kalau pun sampai low vision, tetaplah mandiri. Tetaplah bersyukur.

"Jadi, aku tetap boleh piara kucing, kan?" tanya Nakdis.

Aku hanya mengangguk. Dengan perasaan yang nano nano.

Posting Komentar

0 Komentar

About Me

Tundjungsari Ratna Utami adalah seorang dokter anak yang bertugas di RSUD Ambarawa, RST dr. Asmir Salatiga, dan klinik Sarimedika.
Penulis memiliki 4 anak dan bertempat tinggal di Tuntang, kabupaten Semarang.

Dokter anak ini juga aktif di berbagai kegiatan antara lain pengurus Salimah (Persaudaraan Muslimah) Kabupaten Semarang.

Punya hobi menulis, menjelajahi alam, serta mencoba hal baru.
Hobi ini yang mendorong si emak untuk punya blog. Semoga menginspirasi.