Aku, Kamu dan Kiwi

Aku, Kamu dan Kiwi

"Kiwi? Ada ya buah bernama kiwi?" Itu pertanyaanku 11 tahun yang lalu.

Aku mengenal kosakata buah kiwi saat kelas 6. Lewat buku pelajaran. Tentang buah-buahan impor.

Dan kau merespon dengan sangat serius.

"Kau beneran belum pernah makan?"

Aku menggeleng sembari menatap wajahmu.

"Kalau lihat?"

Gelenganku bertambah kuat.

"Kapan-kapan, aku akan memperlihatkan padamu."

Ada nada prihatin dalam kalimatmu.

Lalu hari itu kau sungguh menepati janji.

"Ayo kita membeli kiwi," ajakmu.

Aku mengiyakan dengan memberikan binar mataku. Kau mengajakku ke swayalan.

Membeli untukku satu buah kiwi. Nilainya setara dengan satu ikat rambutan. Dan berjuta kenangan.

Sejak saat itu aku menyesal. Mengapa dulu tidak rajin belajar. Akibatnya hanya diterima di SMP pinggiran. Berbeda sekolah denganmu.

Tapi kadang kita masih bertemu. Rumah kita satu er te, hanya beda gang. Bertanya matematika adalah alasanku bertandang. Dan kau selalu menyambut dengan muka riang.

"Besok bawalah soal yang lebih sulit. Aku akan membantu," katamu selalu menawarkan.

SMA saat yang paling menyenangkan. Meski beda jurusan, setidaknya kita satu sekolahan. Tiap hari, aku bisa mencuri pandang.

Di SMA engkau cemerlang bersinar. Sebaliknya, aku semakin terdampar.

Engkau juara olimpiade tingkat nasional. Aku hanya peringkat 26 dari 35 siswa.

Namun engkau tetap rendah hati. Dan memesona. Memilih kehujanan, karena payung kau pinjamkan.

"Bawalah payungku. Aku cukup memakai topi," katamu sambil tersenyum. Hujan turun saat pulang sekolah.

Aku sebenarnya ingin sepayung berdua. Tetapi sepertinya, engkau keberatan. Aku paham, sebab kamu seorang aktivis rohis.

Selepas SMA, orang tuamu mengadakan syukuran. Kau dapat beasiswa ke China. Negara tempat kiwi berasal. Itulah terakhir aku melihatmu.

"Saat kau pulang, bawakan aku kiwi," kataku.

"Insyaallah," jawabmu.

Kita tidak pernah bertukar kabar. Ingin bertanya pada ibumu, namun tidak ada nyali. Tetapi kenangan tentang kamu dan buah kiwi, tidak pernah mati.

Tiap kali
Aku berdoa
Aku bersujud
Suatu saat
kau juga cinta padaku

Hanya lagu itu yang kunyanyikan. Dan berharap, angin menyampaikannya padamu.

Lima tahun berlalu.

Hari ini, kau berdiri di muka pintu rumahku. Dengan sekeranjang kiwi di tangan kirimu. Dan seorang perempuan cantik di tangan kananmu.

"Perkenalkan, ini istriku."

***

Posting Komentar

0 Komentar

About Me

Tundjungsari Ratna Utami adalah seorang dokter anak yang bertugas di RSUD Ambarawa, RST dr. Asmir Salatiga, dan klinik Sarimedika.
Penulis memiliki 4 anak dan bertempat tinggal di Tuntang, kabupaten Semarang.

Dokter anak ini juga aktif di berbagai kegiatan antara lain pengurus Salimah (Persaudaraan Muslimah) Kabupaten Semarang.

Punya hobi menulis, menjelajahi alam, serta mencoba hal baru.
Hobi ini yang mendorong si emak untuk punya blog. Semoga menginspirasi.